Ter Update :
BelajarInggris.Net 300x250
Tentang Saya

Nama saya Maulana Ikbar Teman teman saya biasa memanggil dengan nama Aik atau Maulana saja.
Saya (sekarang) tinggal di Jl. Bangko- Kerinci Km. 40,
Desa : Muara Panco Barat.
Kec/Kab/Prop/ : Renah Pembarap, Merangin, Jambi, Indonesia.
TTL : Lahir di Muara Panco,17 Desember 1989.






Sekolah







Saya menempuh sekolah SD N 113 Muara Panco, hingan selesai. Setelah tamat di SD, saya melanjutkan ke Paket B. setara SMP. Yang letaknya masih di kawasan desa ku sendiri ( Muara Panco)




Kemudian saya melanjutkan ke Ponpes Syekh Maulana Qori (PPSMQ) Titian Teras (MAS SMQ). Saya mengambil jurusan PAI.





Kemudian saya melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, masih di Kawasan Kab. Merangin, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syekh Maulana Qori ( SMQ) . Disini saya mengambil jurusan Tarbiyah (sangat jauh diluar rencana). Do’akan cepat lulus ya.


Hobby

Hobi saya sebenernya banyak. Tapi hanya sedikit yang saya tekuni.
1. Main Bola (versi kampung)
2. Main bulu tangkis
3. Ngeblog
4. Editing gambar
5. Sedikit Ngoprek computer
6. Modifikasi mainan (kalau lagi mud)



Sejarah Ngeblog

Blog ini adalah blog pertama saya. Awalnya saya membuat blog merasa sangat berat dan tidak mempunya ketertarikan sama sekali. Namun berjalanya waktu dengn terus deberi moti fasi oleh mamak saya Mohd khalid dengn bimbingn beliau yang membuat saya sadar, dan saya berfikir orang mencari ilmu bayar sementara saya deberi gratis gak mau sangat bodoh aku rasanya setelah saya mencoba ternyata blog mempunyai kesan tersendiri. Dan begitu banyak manfaat yang sayarasakan.



Alasan Ngeblog


Kalau jujur sih. Alasannya simple, belajar cari d**t. Silahkan diterjemahkan sendiri. Tapi selain itu saya ngeblog karena saya ingin menyalurkan hobi yaitu modifikasi template (tampilan blog). Percaya nggak percaya, walaupun template blog ini terlihat simple, tapi saya menghabiskan waktu sampai berbulan-bulan
Oleh karena itu, saya harus pikir panjang untuk mengganti template blog ini. Ribet.
Oya, satu lagi. Saya memang tidak begitu handal tentang tulis-menulis. Terlihat pada postingan blog ini yang amburadul. Apalagi yang pake bahasa ingrris, Waw !! Dengan blog ini, saya akan terus belajar nulis.


Content BlogMaulana Ikbar


Dalam blog ini, Saya menulis gado-gado maklum sayakan baru mulai
Tapi saya usahakan semua postingan saya informatif, artinya memiliki efek balik bagi yang pembaca.


Thanks to :
1. Allah SWT, Alhamdulillah
2. Nabi Muhammad SAW, yang sudah membuat saya mengerti ISLAM
3. Ibu, atas semuanya
4. Ayah, atas dukungannya
5. Blogger/blogspot, atas hosting gratisnya. Hehe
6. Om-om blog, yang sudah membantu saya. walaupun nggak pernah ketemu
8. All yang udah mendukung terlaksananya blog ini.

Cara Mudah Menggunakan Ms. Excel

Microsoft Excel atau Microsoft Office Excel adalah sebuah program aplikasi lembar kerja spreadsheet yang dibuat dan didistribusikan oleh Microsoft Corporation untuk sistem operasi Microsoft Windows dan Mac OS. Aplikasi ini memiliki fitur kalkulasi dan pembuatan grafik yang, dengan menggunakan strategi marketing Microsoft yang agresif, menjadikan Microsoft Excel sebagai salah satu program komputer yang populer digunakan di dalam komputer mikro hingga saat ini. Bahkan, saat ini program ini merupakan program spreadsheet paling banyak digunakan oleh banyak pihak, baik di platform PC berbasis Windows maupun platform Macintosh berbasis Mac OS, semenjak versi 5.0 diterbitkan pada tahun 1993. Aplikasi ini merupakan bagian dari Microsoft Office System, dan versi terakhir adalah versi Microsoft Office Excel 2007 yang diintegrasikan di dalam paket Microsoft Office System 2007.

Berikut ini adalah beberapa ekstensi Microsoft Excel:
  1. *.xls, merupakan format default Microsoft Excel sebelum Excel 12. Masih berbasis format BIFF dan dapat menyimpan macro VBA.
  2. *.xlt, merupakan format untuk template worksheet Microsoft Excel sebelum Excel 12. Masih berbasis format BIFF dan dapat menyimpan macro VBA.
  3. *.XML, atau yang disebut sebagai XML Spreadsheet. Tidak mampu menampung macro VBA.
  4. *.xla, merupakan format untuk Excel Add-in sebelum Excel 12. Masih berbasis format BIFF dan dapat menyimpan macro VBA, mengingat tujuannya adalah untuk menambahkan kemampuan Microsoft Excel.
  5. *.xlsx, merupakan format default worksheet Microsoft Excel 12, yang telah berbasis XML. Tidak dapat menyimpan macro VBA, karena alasan keamanan. Sebenarnya merupakan sebuah arsip terkompres berformat ZIP dengan struktur dokumen yang terdiri atas dokumen teks XML. Adalah pengganti dari format .xls yang kuno.
  6. *.xlsm, merupakan format worksheet Microsoft Excel 12, yang telah berbasis XML, tapi dapat menyimpan macro VBA.
  7. *.xlsb, merupakan format worksheet Microsoft Excel 12, yang telah berbasis XML, tapi dikodekan dalam bentuk biner. Format ini memiliki keunggulan lebih kepat dibuka dan lebih efisien, mengingat tujuan dibuatnya format ini adalah untuk menangani worksheet yang sangat besar yang terdiri atas puluhan ribu baris atau ratusan kolom.
  8. *.xltm, merupakan format untuk template worksheet Microsoft Excel 12, yang telah berbasis XML tapi mampu menyimpan macro VBA. Merupakan pengganti dari format *.xlt.
  9. *.xlam, merupakan format untuk Excel Add-in untuk menambah kemampuan Excel 12. Secara default mampu menangani macro VBA, mengingat tujuannya adalah menambahkan kemampuan Excel.

Menembus Kegelapan Untuk Menjemput Pajar

“Seorang mukmin boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah.
Tetapi dia tidak boleh kalah, menyerah pada kelemahannya, menyerah pada tantangan dan keterbatasannya. Dia harus tetap menembus gelap supaya dia bisa menjemput fajar. karena surga bukanlah kado yang dihadiahkan begitu saja.”
Ketika aku merasa tak mampu lagi memberikan perhatian padamu, aku yakin Allah mampu. Ketika aku merasa tak mampu lagi membantumu bertahan, aku yakin Allah mampu.. Ketika aku merasa tak mampu lagi menjadi tempatmu berkeluh kesah, aku yakin Allah mampu. Ya Robb..satu pintaku, ketika aku sudah tak mampu lagi menggenggam erat tangan saudara dan saudariku, jangan pernah biarkan ia lepas dari genggaman-Mu..

Baik Sangka Pada Ilahi

Sekecil apa pun kerikil yang kamu temui hari ini, bersyukurlah dan jalanilah dengan ikhlas sepenuh hati. Berbaik sangkalah atas ketetapan Ilahi.
Hingga ia menunjukkan kebesaran-Nya atas kepasrahan diri.
Janganlah menyerah sebelum bendera hasil akhir dikibarkan, karena jika Allah telah berkehendak, Ia akan menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ialah yang membangun asa menjadi nyata.
Maka dekatilah Ia, pintalah pada-Nya, dan warnailah semua dengan taqwa..

Allah, again and again, thank You for everything happened.

Rangkaian Ekspresi Mencoba Memahami

Apa namanya?
jika perasaan itu tak mampu terdefinisi oleh kata
akal tak kunjung paham,
hati pun enggan mengelak,
apalagi sikap, yang hanya rangkaian ekspresi keduanya
aku tak mampu menyederhanakan perasaan
dari cinta menjadi perhatian
dari rindu menjadi keinginan untuk bertemu
atau dari kebanggaan menjadi untaian-untaian kata hebat
aku tak mampu
tapi sungguh,
yang aku tahu,
ada hati yang setia menunggu...
seperti pelangi yang menunggu hujan
atau seperti bulan yang menemani bumi
atau mungkin, seperti bunga yang setia menunggu lebah
sesekali, tidakkah kau merasa?
saat jiwa ingin menyampaikan sebuah pesan
bahwa rasa rindu ini memuncak
bahwa perpisahan yang singkat justru membuat diri ingin segera bertemu
sesegera mungkin
pasti kau bertanya
aku seringkali menghindar, bukan?
pernahkah kau mendengar?
kisah Jibril yang tak siap bertemu dengan Rasul saat menjelang pencabutan nyawanya?
bagaimana kau memaknainya?

Oh ya,
rasa enggan bertemu itu bisa karena dua hal,
terlalu benci, atau terlalu cinta
dan sepertinya,
alasanku terhadapmu sama seperti alasan Jibril terhadap Rasul
yang aku tahu,
dulu, akan selalu equivalen dengan saat ini
mungkin lebih, atau bertambah
hanya saja, sekali lagi, aku tak mampu menyederhanakannya
maka,
bersediakah kau membantuku?
untuk menyederhanakannya saja
atau setidaknya, untuk mendefinisikan apa namanya
agar aku tak salah lagi dalam bersikap
agar aku tak lagi menyimpan harapan-harapan sirna
maukah kau membantuku?
untuk menyederhanakan sebuah kerumitan
agar diam kita tak lagi ambigu
agar hati dan sikap kembali sinergis
agar semua jelas terdeskripsikan
dan sungguh,
yang terpenting adalah
agar aku, tak lagi mencoba memahami apa yang kau rasakan !

Maaf Tak Kan Pernah Cukup

Hati manusia bagaikan selembar kertas putih.
Dan "kejadian" bagaikan sebuah pensil.
Seperti apa yg bisa dilakukan pensil terhadap kertas, seperti itulah yg "kejadian" lakukan pada hati manusia, meninggalkan tanda, meninggalkan makna.

Sebagian besar dari kita tentu pertama kali belajar menulis menggunakan pensil, dengan alasan: agar ketika kita melakukan kesalahan, kita bisa menghapusnya dan mengulangnya dari awal. Hal ini juga yg kita pahami dalam kehidupan: ketika kita melakukan sebuah kesalahan, kita selalu bisa menghapusnya dengan meminta maaf.

Kita selalu bisa kembali menghapus apa yg telah kita tulis di atas kertas, dan membuat kertas tersebut kembali putih. Namun ada detil yg selalu terlewat oleh kita, yaitu ketika kita menghapus tulisan pensil di atas kertas, bekasnya tak kan mungkin hilang sama sekali. Kalau kita perhatikan, bekas tulisan itu akan selalu ada, walau tidak sejelas sebelum dihapus. Dan semakin sering kita mengulanginya, menulis dan menghapusnya, ternyata kertas itu akan terus bertambah rusak, bahkan bisa terkoyak ketika terlalu sering dilakukan.

Seperti itulah respon hati manusia terhadap kesalahan dan permintaan maaf.
Ketika kita menyakiti hati orang lain dengan melakukan kesalahan, kita selalu bisa meminta maaf dan kembali berhubungan baik, tapi ingatlah kawan: kesalahn itu tak akan pernah dilupakan, walaupun telah dimaafkan. Selalu ada bekas tentang kejadian di hati manusia, terutama sebuah kesalahan. Selalu ada kerusakan pada hati yg telah disakiti, meskipun maaf telah diberikan.

Kawan, maaf tak akan pernah cukup untuk menghapuskan kesalahan yg telah kita buat.
Manusia memang tempatnya salah, tapi selalu ada yg bisa kita usahakan:
1. Jangan pernah ulangi kesalahan yg sama, karena itu akan memperbesar luka yg telah ada. Berusahalah, belajarlah dari kesalahan masa lalu.
2. Berfikirlah 2 x sebelum berkata dan bertindak, karena hanya ada penyesalan ketika kita terlanjur berbuat sebuah kesalahan.

Maaf tak akan pernah cukup, Kawan!!

From: Firlana

Asa Menjadi Nyata

Sekecil apa pun kerikil yang kamu temui hari ini, bersyukurlah dan jalanilah dengan ikhlas sepenuh hati. Berbaik sangkalah atas ketetapan Ilahi.
Hingga ia menunjukkan kebesaran-Nya atas kepasrahan diri.
Janganlah menyerah sebelum bendera hasil akhir dikibarkan, karena jika Allah telah berkehendak, Ia akan menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ialah yang membangun asa menjadi nyata.
Maka dekatilah Ia, pintalah pada-Nya, dan warnailah semua dengan taqwa..

Allah, again and again, thank You for everything happened.

menyederhanakan persoalan rumit di dalam kehidupan

Terkadang, ekspresi matematis menjadi perlu untuk menyederhanakan persoalan rumit di dalam kehidupan
terkadang, sebuah pelukan hangat menjadi penting untuk mengekspresikan sebuah kerinduan
terkadang, kita perlu tersenyum saat merasakan bahagia, untuk berbagi dan menebar kebahagiaan pada sesama
pun kita perlu menangis saat kesedihan mencapai titik puncak grafik parabola ujian
dan terkadang, doa menjadi penting sebagai bukti kepedulian kita pada mereka yang tercinta di sana

maka terimalah Bunda,
ekspresi cinta dari buah hatimu yang selalu mendoakanmu dalam setiap shalatnya
“Rabbighfirlii wa liwaalidayya, warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa..”

maka terimalah Bunda,
rasa rindu yang tertuang dalam doa-doa di setiap shalat lailnya
rindu yang mengantarkan cinta dan terima kasih atas setiap penempaan dan pengorbanan

terimalah Bunda, dan saksikanlah saat itu..
saat dunia tak lagi bernilai dan semesta kembali pada Pencipta
sebuah mahkota indah nan bercahaya telah siap disandangkan untukmu yang berhati mulia
sebuah penghargaan untukmu,
yang selalu menuai kasih dan sayang, melebarkan sayap kebaikan pada sekitar
yang cinta dan pengorbanannya, tak pernah lekang oleh masa, dan tak lapuk oleh musim dan peristiwa
juga atas jerih payah perjuangan, untuk mendidik anak-anaknya menjadi pemuda-pemudi Qurani

terima kasih Bunda,
dalam diammu, selalu ada cinta
dalam marahmu, selalu ada cinta
dalam sukamu, selalu ada cinta
dalam dukamu, selalu ada cinta

maka semoga Allah selalu mencintaimu,
menjagamu dalam kehangatan iman, dan merawatmu dalam keindahan taqwa
salam terbaik dariku untukmu nun jauh di sana.

(lagi rindu Mama)
Form: Firlana

Memahami Arti dari Cahaya Ilahi


“…Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Al Qur’an Surah An Nur 35)

Cahaya Allah itu.. memiliki nilai absorbansi tinggi pada jiwa yang bersih.
Cahaya Allah itu.. nilai persen transmittannya sangat kecil jika dilewatkan pada hati yang senantiasa berdzikir.
Cahaya Allah itu.. lambdanya sesuai dengan fotosistem dalam klorofil cinta.
Cahaya Allah itu.. tidak akan pernah menyatu dengan hati yang jauh dari-Nya.
Karenanya, jadikan dzikir senandungmu dalam lisan. Jadikan shalat saranamu dalam membersihkan jiwa. Jadikan kebaikan mewarnamu dalam hari di setiap langkah perjuangan..

“Jagalah Allah di hatimu, niscaya Allah akan menjagamu. Ingatlah Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit. Ketahuilah bahwa apa yg ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yg ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kemudahan itu bersama kesulitan dan jalan keluar itu bersama kesusahan..”
(Hadist Arba’in 19)

Ya Allah, berikanlah cahaya pada hati kami, juga pada lisan kami.
Dan berikanlah cahaya pada pendengaran kami juga pada penglihatan kami.
Dan berikanlah cahaya dari belakang kami, juga dari depan kami.
Dan berikanlah cahaya dari atas kami, juga dari bawah kami.
Ya Allah, limpahkanlah pada kami cahaya-Mu yang tiada pernah redup.
Ya Allah, tertatih kami merengkuh cahaya-Mu. Mudahkanlah bagi kami untuk menyempurnakan ketaatan pada-Mu, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaaan sempit. Baik dalam keadaan sulit maupun mudah. Baik dalam keadaan sakit, maupun sehat..

Sempurnakan cahaya-Mu ya Rabb, pada jiwa yang tak ada daya..

Form : Firlana

Pengenalan Tampilan MS.Excel

 Ms. Excel identik dengan aplikasi pengolah angka. Sebetulnya di apliksi Ms. Excel 2007 kita juga bisa melakukan pengolahan seperti di Ms. Word 2007 kata terutama pada pengolahan yang menggunakan tabel.

Pada Windows Microsoft Excel 2007 yang muncul, terdapat beberapa tampilan sebagai berikut (tunjukkan dengan mouse anda masing-masing komponen berikut) :

  1. Office Button terdiri atas perintah New Document, Open, Convert, Save, Save as, Print, Prepare, Send, Publish dan Close.

Cara Membuat Bacgkround gambar Excel

Cara membuat background di lembar kerja excel sebenarnya sangatlah mudah dan tidak sesulit yang kita fikirkan so…,,,,,,,,
silahkan diikuti langkah-lamgkah berikut ini :
1.    Bukalah data ms excel anda
2.    Buka ribbon Page Layout kemudian Klik Background pada group menu Page setup.
3.    Pada jendela yang muncul, browse file gambar anda kemudian klik insert.
4.    Maka lembar kerja ms excel anda telah terlihat ada background gambar yang telah anda pilih.

semoga bermanfaat...wassalam

Upload File Word, Excel, Power poin dan dll

Halooo Sahabat MI apa Kabar Nech ,,,??? Hmmmmmmm kali ini MI kembali Mencoba Untuk memposting kembali semoga bermanfaat buat shobat semua,,,
Ok..!!! langsung saja,,,masalah file word, Excel, Power Poin, dll, bagi yang sudah punya blog tapi gak bisa ngapload yang berbentuk file ke dalam blognya, malam ini juga kebuntuan sahabat2 MI mania akan terselesai sekarang Juga,,,,karna sebenarnya gak susah ko’,,,,tinggal ikuti langh yang dibawah ini:

Langkah 1 : upload file ke docs.google.com
1.    Silahkan login dengan account gmail anda ke alamat yang diatas.
2.    Klik tab Upload yang berada di sebelah kiri atas layar monitor anda. ( lihat gambar )

3.    Pilih files, masukan file yang ingin anda upload (word, excel, powerpoint, pdf)

4.    Kalau sudah memilih file yang akan di upload, klik open.

5.    Setelah meng-klik open akan muncul peringatan "Upload setting" seperti gambar dibawah, jangan lupa untuk mencentang "Convert documents, presentations, spreadsheets, and drawings to the corresponding Google Docs format" ( lihat gambar )

Tapi jika tampilan di atas tidak muncul, itu dikarenakan "Upload Setting"nya belum dirubah. Anda lihat di pojok kanan atas, dibawah foto, ada menu Dropdown yang bergambar seperti "Gear", Pilih "Upload Settings" , Lalu pilih "Confirm Settings Before Each Upload". Tinggal upload ulang deh file tadi, pasti tampilan di atas akan terlihat.

Langkah 2 : Meng-Embed file


1.    Setelah selesai upload, buka atau klik file yang telah diupload. Setelah mengklik, maka akan muncul halaman yang berisi dokumen tersebut, fokuslah ke bagian menu kiri halaman tersebut.
Pilih File => Embed This PDF File... ( ini untuk contoh format PDF )
2.    elanjutnya, copy lah code yang muncul setelah anda mengklik "Embed This PDF File...." dan letakkan ke blog/postingan blog anda,

Catatan: 
Kode tersebut dimasukan di dalam posting blog dalam mode Edit Html ( Bukan Compose )

semoga sukses,,,,!!!

Berawal Dari Mencoba Jadi Hobby

Maulana Ikbar

Berawal Dari mencoba timbul rasa penasaran untuk terus belajar tentang dunia IT, yang akhrinya menjadi Sangat gemar mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teknologi informasi, khususnya pemograman computer seperti bahasa C, visual basic, php, dan java serta networking. Dan akhir-akhir ini sangat doyan belajar system operasi linux sampai pagi.
Pengalaman bekerja di dunia IT mulai sebagai asisten instruktur computer hingga menjadi instruktur benaran di LKP Sungai Panco.

Tentunya Ini semua tidak terlepas orang2 yang selalu mensupport saya untuk terus belajar dan memanfaatkan waktu untuk sebaik mungkin

e-mail  :  maulanaikbar89@gmail.com
blog    : http://maulana-ikbar.blogspot.com/
motto    : try and error

Example The Easist Tensis




Example 16 Tensis
I do. . .(simple present tens)
I’m doing. . .(present continous)
I have done. . (present perfect)
I have been doing. . .(peresent perfect continous)
I did. . .(simple past tens)
I was doing. . .(past continuos)
I had done. . .(past perfect)
I had been doing. . .(past perfect continuos)
I will do. . .(simple present future tens)
I will be doing. . .(present future continous)
I will have done. . .(present future perfect)
I will have been doing. . . (Present Future Perfect Continuous)
I would do. . . (Simple Past Future Tense)
I would be doing. . .( Past Future Continuous)
I would have done. . . (Past Future Perfect)
I would have been doing. . . (Past Future Perfect Continuous)
 
1.    Simple Present Tense

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang berlangsung setiap hari atau yang biasa di kerjakan.
Rumus:
(+) S + V1 (s/es) + O
( -) S + do/does + not + V1 + O
( ?) Do/does + S + V1 + O ?

Keterangan:
Do dipakai untuk : They, We, I ,You
Does dipakai untuk : She, He, It

2.     Present Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang sedang berlangsung sekarang atau yang sedang dibicarakan.
Rumus:

(+) S + To be (is, am, are) + Ving + O
( -) S + To be (is, am, are) + not + Ving + O
( ?) To be (is, am, are) + S + Ving + O ?
Keterangan:
Am dipakai hanya untuk : I
Is dipakai untuk : She, He, It
Are dipakai untuk : They, We, You

3.    Present Perfect

Fungsi:
Menyatakan kegiatan yang saat sekarang telah selesai di lakukan dan biasanya berakibat di peristiwa masa sekarang.

Rumus:

(+) S + have/has + V3 + O
( -) S + have/has + not + V3 + O
( ?) Have/has + S + V3 + O ?
Keterangan:
Have dipakai untuk : They, We, You, I
Has dipakai untuk : She, He, It

4.    Present Perfect Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang dimulai pada masa lampau dan maih berlangung sekarang dan berkemungkinan berlangsung di masa yang akan datang.
Rumus:

(+) S + have/has + been + Ving + O
( -) S + have/has + been + not + Ving + O
( ?) Have/has + S + been + Ving + O ?

5.    Simple Past Tense

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang trejadi dimasa lampau.

Rumus:

(+) S + V2 + O
( -) S + did + not + V1 + O
( ?) Did + S + V1 + O ?

6.    Past Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang sedang dikerjakan di masa lampau.

Rumus:

(+) S + To be (was, were) + Ving + O
( -) S + To be (was, were) + not + Ving + O
( ?) To be (was, were) + S + Ving + O ?
Keterangan:
Was dipakai untuk : She, He, It, I
Were dipakai untuk : They, We, You

 
7.     Past Perfect

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang terjadi dimasa lampau yang sudah selesai di lakukan.
Rumus:

(+) S + had + V3 + O
( -) S + had + not + V3 + O
( ?) Had+ S + V3 + O ?
Keterangan:
Had dipakai untuk semua Subject

8.     Past Perfect Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang telah sedang berlangsung selama jangka waktu tertentu ketika peristiwa lain juga terjadi di masa lampau.
Rumus:

(+) S + had + been + Ving + O
( -) S + had + been + not + Ving + O
( ?) Had + S + been + Ving + O ?

9.    Simple Present Future Tense

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang akan berlangsung di masa yang akan datang.
Rumus:

(+) S + will/shall + V1 + O
( -) S + will/shall + not + V1 + O
( ?) Will/shall + S + V1 + O ?

Keterangan:
Will dipakai untuk semua Subject
Shall dipakai untuk: I, We

10.    Present Future Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang akan sedang terjadi di waktu tertentu di masa yang akan datang
Rumus:

(+) S + will/shall + be + Ving + O
( -) S + will/shall + not +be + Ving + O
( ?) Will/shall + S + be + Ving + O ?

11.     Present Future Perfect

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang sudah selesai pada waktu yang akan datang.
Rumus:

(+) S + will + have + V3 + O
( -) S + will + not + have + V3 + O
( ?) Will + S + have + V3 + O ?

12.    Present Future Perfect Continuous

Fungsi:

Rumus:

(+) S + will + have + been + Ving + O
( -) S + will + have + not +been + Ving + O
( ?) Will + S + have + been + Ving + O ?

13.    Simple Past Future Tense

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang akan dilakukan di masa lampau, tetapi rencana itu tidak terlaksana.
Rumus:

(+) S + would + V1 + O
( -) S + would + not + V1 + O
( ?) Would + S + V1 + O ?

14.    Past Future Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang akan sedang berlangung pada waktu tertentu di maa lampau.
Rumus:

(+) S + would + be + Ving + O
( -) S + would + not + be + Ving + O
( ?) Would + S + be + Ving + O ?

15.    Past Future Perfect

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang seharusnya terjadi kemarin di masa lampau.
Rumus:

(+) S + would + have + V3+ O
( -) S + would + have + not + V3 + O
( ?) Have + S + have + V3+ O ?

16.    Past Future Perfect Continuous

Fungsi:
Menyatakan aktifitas yang seharunya telah sedang terjadi elama waktu tertentu di masa lampau.
Rumus:

(+) S + would + have + been + Ving + O
( -) S + would + have + not + been + Ving + O
( ?) Would + S + have + been + Ving + O ?


HADITS SETELAH DIBUKUKAN



HADITS SETELAH DIBUKUKAN

Oleh : Suwari



A.    Pendahuluan

Salah satu fungsi hadits adalah merupakan penafsiran Al Qur’an dalam praktik atau penerapan ajaran Islam secara factual dan ideal. Hal ini mengingat bahwa pribadi Nabi SAW, merupakan perwujudan dari Al Qur’an yang ditafsirkan manuia, serta ajaran Islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin mengetahui tentang manhaj (metodologi) praksis Islam dengan segala karakteristik dan pokok-pokok ajarannya, maka hal itu dapat dipelajari secara rinci dan teraktualisasi dalam Sunnah Nabi, yakni ucapan, perbuatan dan persetujuan Nabi SAW.[1]

Adanya pembukuan hadits tentunya mempunyai dampak positif yang banyak sekali terhadap perkembangan dan penyebaran ajaran Islam. Hal ini dapat kita lihat ketika ada suatu permasalahan atau perselisihan mengenai suatu hukum yang terjadi di antara umat Islam, setelah mereka memeriksa dan mencari dalil tentang hukum tersebut dalam Al Qur’an hampir dapat dipastikan mereka akan mencari dalil sunnah (hadits) sebagai pilihan kedua.

Dalam pembahasan makalah ini penulis ingin mengemukakan secara mendalam sejak pengertian, latar belakang dan permulaan pembukuan hadits, perselisihan pemakaian hadits sebagai dasar hukum Islam dan terakhir dampak atau implimentasi dari pembukuan hadits. Pembahasan mengenai pengertian memang sudah berulang kali kita bahas dan juga latar belakang serta permulaan kodifikasi hadits juga pernah kita bahas bersama namun, kali ini penulis ingin mengemukakan sesuatu yang beda yang mungkin dapat menambah wawasan kita tentang pembukuan hadits khususnya.



B.     Pembahasan

1.      Pengertian Hadits

Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat-sifat atau akhlak.[2] Namun bila kita membuka kitab-kitab hadits, segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya, tidak berkenaan dengan ucapan, berbuatan atau taqrir Nabi saw. Sekedar memperjelas persoalan di sini, dikutipkan beberapa saja diantaranya. Pada Shahih Bukhari, hadits No. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan dengan urusan ekonomi, seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. Ia selalu menyertai Nabi saw. Untuk mengenyangkan perutnya, menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain, dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain.

Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya, padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan, perbuatan atau taqrir Nabi saw. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi, karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw.). Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari.

Mungkin bagi banyak orang, riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits, sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat, para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat, disebut hadits maqthu. Dalam Shahih Bukhari, misalnya, ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang." Ini bukan sabda Nabi saw. Menurut Bukhari, ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri.[3]. Karena itu menurut Dr. Atar, definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in."[4]

Pendapat Dr. Atar ini sangat cocok sekali dengan realita yang kita hadapi mengenai definisi hadits tersebut. Dari apa yang telah kita pelajari bersama mengenai definisi serta macam-macam hadits ternyata ada kontradiksi antara definisi dan praktek pembagian hadits, sehingga sesuatu yang bukan hadits sering kita sebut sebagai hadits dan bahkan sering kita jadikan dalil dalam berdiskusi.

Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. Hadits itu berbunyi, "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap." Hadits ini merupakan ucapan 'Abdullah al-Bajali, bukan ucapan Nabi saw.[5]. Demikian pula, kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional, didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab.



2.      Selintas Latar Belakang Pembukuan Hadits

Pembukuan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri, dan rampung  pada  pertengahan  abad ketiga. Hal ini tidak lepas dari adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w. 102 H.) dari Bani Umayyah. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan, Umar II, yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa al-Rasyidun, sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib.

'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal, Syihab al-Din al-Zuhri  (w. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk  Madinah,  Kota  Nabi,  karena keyakinan  'Umar  II  bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi, jika bukannya malah merupakan  wujud  historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri.

Dari sudut analisa politik, tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideology Jama'ah-nya, yang  dengan  ideologi itu ia ingin merangkul seluruh  kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka, termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah, di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab), 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud.

Jadi, dalam pandangan 'Umar II, sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi"  atau "sunnah" historis penduduk Madinah, dan dengan begitu, juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukuan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. Selanjutnya, "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang  persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. Dan berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut   sebagai   paham   "sunnah   dan  jama'ah"  dan  para pendukungnya disebut ahl  al-sunnah  wa  al-Jama'ah  (golongan sunnah dan jama'ah).

Mushthafa al-Siba'i dalam majalah Al-Muslimin seperti yang dikutip Nurcholis Madjid amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan  dengan pembukaan sunnah itu, sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena, dalam pandangan al-Siba'i, golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga, dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi, mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). Dan, menurut  al-Siba'i, sebelum  masa  'Umar  II  pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits, sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash.[6]



3.      Perselisihan tentang Otoritas Hadits

Seperti yang telah kita ketahui bahwa tentang adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas   kumpulan hadits. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah, karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). Menurut Dr. Mushthafa al-Siba'i, seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria, serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria, golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam  dunia Islam, dari dahulu sampai sekarang.

Secara ringkas, menurut al-Siba'i, pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja, dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber  penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya  hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen  (hujjah)  karena  terjadi penambahan-penambahan padanya,   dan  karena  adanya  banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar  nash-nash-nya.  Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut:

a.       Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q.S. Al-An'am 6:38). Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah, sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum dan membuat syari'ah.

b.      Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan, sebagaimana difirmankan, "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran, dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q.S. al-Hijr 15:9). Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits), sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. Kalau seandainya  hadits termasuk sumber penetapan syari'ah, tentulah   Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya.

c.       Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw., bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun, dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar, Abu Bakr, 'Alqamah, 'Ubaydah, al-Qasim Ibn Muhammad,  al-Sya'bi, al-Nakha'i, dll., menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama, dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits, dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka, sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i, karena Allah berfirman, "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q.S. al-Najm 52:28).

d.      Terdapat penuturan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan daridiriku. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur,an, ia berasal dari diriku; dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an, ia tidak berasal dariku."[7]

Dr. Musthafa al-Siba'i, seorang pembela paham Sunni yang tegar, dengan tandas menolak argumen-argumen itu. Dia menyatakan:

1.      Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu, tapi hanya dalam garis besar saja.

2.      Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah, dalam hal ini hadits. Sunnah dan hadits tetap terpelihara, melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan).

3.      Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu  kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat,  disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis.  Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya.

4.      Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa  kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits  yang  sahih,   meskipun   menetapkan   ajaran   secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an.[8]

Perbedaan pendapat seperti ini masih terus terjadi sampai saat ini, karena masing-masing pihak tetap berkeyakinan bahwa dasar argument mereka adalah lebih tepat serta lebih shahih untuk dijadikan dalil terhadap pilihan mereka. Untuk lebih jelasnya perbedaan semacam ini juga terjadi dan sudah menjadi bahan perdebatan antara kaum Syi’ah dan kaum Sunni, seperti perdebatan masalah ithrati atau sunnati.

Sebenarnya hal itu ada dua Hadits yang satu menurut jalur Ahlul Bait atau lmamiyah yang berbunyi sebagai berikut:

“Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka yang berharga, Al-Qur’an dan Ithrah Ahli Baiiku, kalau kalian berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan sesat."

Menurut Syi‘ah lmamiyah hadits tersebut hampir dikatakan mutawatir, bukan hanya shahih saja. Kalau hadits ini kita tinjau dan kitab-kitab standard kita Ahlus sunnah (Muslim, Kitab Fadhoilus Sohabah Bab Fadhail Ali, Turmudzy Juz 2, ha. 308, Mustadrak al-Hakim Juz 4, ha. 48, 109, Musnad Ahmad Juz 3, hal. 17, Nasa’i Kitab Khosois Imam Ali) maka kita menganggap hadits ini yang menye­butkan “Ithrati”, kita Ahlussunnah menganggap­nya shahih. Hampir semua kitab hadits meriwa­yãtkan hadits Ithrah ini kecuali Bukhari. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Kitab Fadhoil Ahiul Bait; Imam Turmudzy, An-Nasa’i dalam kitabnya Al-Khoshois, dan Ahmad dalam Mus­nadnya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Kanzul Ummal, Ath-Thobakot dll. Dan juga di dalam tafsir-tafsir: Ibnu Katsir, Jama ‘ul Ushul dan lain-lain.

Jadi kita Ahlus Sunnah sendiri menganggap hadits ini shahih. Sedangkan hadits serupa tetapi menyatakan kitabullah wa sunnati dan itu pun hanya terdapat pada dua jalur saja. Kita Ahlus Sunnah membenarkannya dan tidak mau mengambil yang lain yakni kitabullah wa ithrati pa­dahal hadits itu lebih kuat dan lebih banyak,[9] tetapi hanya “kitabullah wa sunnati” yang kita dipakai.



5.      Implikasi Pembukuan Hadits

Adanya pembukuan hadits mempunyai banyak implikasi-implikasi terhadap perkembangan pemahaman tentang ajaran Islam umumnya, serta perkembangan hadits dan ulumul hadits itu sendiri khususnya.

a.       Implikasi Praksis

Implikasi praksis dapat kami uraikan menjadi beberapa bagian di bawah ini :

1)      Memudahkan pencarian hukum-hukum syari’at mengingat hadits sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al Qur’an.

Berhukum dengan hadits Nabawi merupakan kebutuhan agama yang sudah pasti. Dan dalam perkembangannya hadits-hadits tersebut telah disusun atau dibukukan berdasarkan masailul fiqh. Seperti kitab-kitab sunan dan lain-lain.

2)      Memudahkan penilaian hadits karena sebagian hadits sudah diteliti secara mendalam oleh peneliti sebelumnya.



3)      Terpeliharanya kemurnian tradisi Nabi

Banyaknya berita-berita yang sampai ke hadapan kita dengan mengatasnamakan Nabi, sering membuat kita ragu akan kebenaran berita tersebut. Hanya dalam hadits (sunnah) Nabi, yang terwakili dengan hadits shahih, kemurnian warisan Nabi Muhammad dapat terpelihara.[10]

4)      Memungkinkan adanya penulisan-penulisan buku-buku hadits baru setelah penulisan kitab-kitab terdahulu yakni :



b.      Implikasi Teoritis

1.      Hadits ahad dapat diterima

2.      Ilmu hadits akan berkembang sejalan dengan semakin banyaknya tantangan yang dihadapi oleh hadits

3.      Pintu ijtihad semakin lebar dan pintu taklid semakin sempit.



Namun tidak menutup kemungkinan adanya implikasi yang lain yang belum terinventarisir dengan baik oleh penulis.





Berdasarkan ijma’ qath’iy dari para sahabat ra, untuk tidak mengambil khabar ahad dan dzanniy untuk menetapkan salah satu rukun dari rukun-rukun aqidah yakni al-Qur’an yang membangun seluruh rukun aqidah islamiyah, maka tidak ada tempat lagi bagi pendapat yang menyatakan kemungkinan membangun aqidah diatas keraguan (dzan) semisal khabar ahad. Ijma’ sahabat telah meluluhlantakkan pendapat dan propaganda yang menyatakan khabar ahad dapat untuk dijadikan sebagai dalil aqidah.



Barangsiapa berpendapat bahwa khabar ahad membawa implikasi iman

(keyakinan), sesungguhnya ia telah menuduh sahabat-sahabat Rasulullah

Saw telah bersepakat mengurangi dan menambah kitabullah. Sebab para

sahabat Rasulullah Saw tidak mencantumkan riwayat-riwayat ahad (yang

diklaim sebagai al-Qur’an) kedalam mushaf Imam yang wajib kita yakini

keotentikannya. Pendapat diatas juga membawa implikasi bahwa para

sahabat telah melakukan kesalahan dalam masalah ushuluddin, padahal

mustahil bagi mereka bersepakat untuk melakukan kesalahan dan kesesatan.

Sungguh, al-Qur’an dan sunnah telah menjamin keadilan mereka.



Dengan demikian madzhab yang menerima dzan dan khabar ahad dalam aqidah

adalah madzhab bathil dan asing, dan harus ditinggalkan karena pendapat

ini telah bertentangan dengan jumhur kaum muslimin baik dari kalangan

sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta ulama-ulama setelah mereka baik

dari kalangan muhaditsin, fuqaha serta ulama ushul. Mereka sepakat bahwa

khabar ahad hanya menghasilkan /dzan/ (dugaan) saja tidak menghasilkan

keyakinan sehingga tidak bisa sebagai dalil aqidah.





C.    Kesimpulan

Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu, budaya, ekonomi, hukum, dan masyarakat, kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun, kita harus melihat hadits. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam, harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu.

[1] Dr. Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadits Nabi SAW. Pen. M. Al Baqir. Bandung. Karisma. 1999

[2] Dr. Nurrudin Atar, Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits, halaman 26).

[3] Fath-u 'l-Bari 1:47

[4] Dr. Nurrudin Atar. Op.Cit. hal. 27

[5] Nayl al-Awthar 4:148)

[6] http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Sunnah-Nur3.html

[7] Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Haditsan" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26.

[8] Ibid. hal. 27

[9] Jalur (sanad) hadits kitabullah wa ithrati -- mencapai 60 jalur ebih dan sudah disepakati keshahihannya oleh Ulama-ulama AhIi Sunnah wal Jamaah. Ibnu Hajar berkata dalam buku Showaiq Al­-Muhriqah: “Ketahuilah, bahwa hadits tsaqalain memiliki banyak Jalur yang datang dari 20 sahabat. Sekali Beliau SAW mengucapkan di Padang Arafah juga pernah di Ghadir Khum, di kamar Beliau ketika sedang sakit yang membawanya wafat, ketika pulang dan Thaif semuanya tidak ada pertentangan satu sama lainnya, pengulangan itu menunjukkan betapa perhatian Beliau kepada Al-Qur’an dan Al-lthrah. Adapun Hadits wa sunnati hanya diriwayatkan oleh dua atau tiga Ulama di antaranya Imam Malik dalam Muwatha’nya, Ath-Thabari dalam Musnad Kabirnya dari Ibnu Hisyam dalam buku Sirahnya. Untuk lebih jelasnya lihat buku Hadits Tsaqalain yang diterbitkan oleh kelompok pendekatan antar Madzhab “Dar At Taqrib”.

[10] Daniel W. Brown. Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern. Penj. Jaziar Radianti, dkk. Penerbit Mizan. Bandung. 2000. hal. 45

SOSOK PEMIMPIN INOVATIF

SOSOK PEMIMPIN INOVATIF

"Prof. Dr. H. Imam Suprayogo"

I. Pendahuluan

Institusi Pendidikan Islam di Indonesia belakangan ini ternyata banyak yang hanya jalan di tempat, atau mungkin bisa diistilahkan laa yamuutu wa laa yahyaa. Hal ini bisa dikarenakan institusi-istisusi pelaksananya kurang greget dalam pengembangannya, terkesan setengah-setengah, atau lebih spesifik lagi personel-personelnya kurang bergizi keilmuannya, kurang professional, atau bahkan kurang husnu al niyah nya.

Fenomena seperti ini tampak jelas sekali ketika kita melihat instisusi-institusi pendidikan terutama yang ada di pedesaan. Para pendiri institusi ini menilai bahwa masyarakat sekitarnya sangat membutuhkan uluran tangannya dalam mendidik putra-putri mereka. Masyarakat yang mayoritas pra sejahtera sangat menggantungkan pendidikan putra-putri mereka pada pimpinan institusi ini. Karena untuk menyekolahkan di sekolah-sekolah negeri, mereka kesulitan karena ekonomi yang serba kekurangan, apalagi belakangan ini biaya pendidikan tiap tahun selalu naik.

Begitu pentingnya peran yang harus dipikul dan begitu beratnya tingkat kesulitan yang harus dihadapi, dan pada akhirnya kebutuhan akan eksistensi sosok yang inovatif, kreatif, berpikiran maju merupakan suatu keniscayaan. Karena ia harus mampu bertanggung jawab dalam menanggung amanah yang dipercayakan oleh masyarakat sosialnya maupun kepada Rabbnya. Hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya mencari suri tauladan pemimpin inovatif. Dan menurut hemat penulis Bpk. Imam Suprayogo merupakan tauladan yang cocok untuk memajukan institusi pendidikan sebagaimana ia telah berupaya untuk memajukan institusi yang dipimpinnya (UIN Malang).

II. Pembahasan

Imam Suprayogo yang lahir sekitar 53 tahun yang lalu adalah anak desa yang berasal dari sebuah desa di Kabupaten Trenggalek, berasal dari keluarga NU tulen. Lembaga pendidikan yang dilaluinya mulai dari SD sampai SMA tidak ada yang tergolong unggulan, apalagi istimewa. Namun kedisiplinan dan kerja keras sudah terpatri sejak dini. Dan inilah yang mengantarkan Imam Suprayogo menggapai keberhasilannya menjadi Imam besar kelak di kemudian hari, seperti yang kita saksikan hari ini.[1]

Menginjak remaja, Imam memasuki Fakultas Tarbiyah Malang IAIN Sunan Ampel. Setelah menyelesaikan kuliahnya ia menjadi staf biasa, Dekan Fisip dan terakhir Purek I di Universitas Muhammadiyah Malang. Terobosan-terobosan cerdas dilaluinya, walau sering dengan penuh resiko, dalam rangka mengantarkan UMM menjadi salah satu Universitas kebanggaan masyarakat. Sulit dipungkiri bahwa kemajuan UMM seperti sekarang ini tak lepas dari sentuhan-sentuhan cerdik putra Trenggalek tersebut, tentu bersama dengan jajaran pimpinan UMM yang lain.[2]

Kematangan dalam kepemimpinannya sudah tidak diragukan lagi, hal ini terbukti dengan besarnya UMM seperti sekarang ini. Sebagai seorang pemimpin tentunya ia sudah sering berinteraksi dengan orang-orang elit (penting) dalam rangka pengembangan UMM. Namun jiwa dan kepribadiannya tetap low profile seperti yang tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.

Setelah 13 tahun menimba pengalaman leadership di UMM, ia kemudian mulai mengabdi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang sebagai Pembantu Dekan I. Tak lama kemudian Pak Imam dipercaya menjadi Ketua STAIN sejak 1997.

Sejak saat itu muncullah ide-ide briliannya untuk menghantarkan STAIN menjadi salah satu pusat kajian studi Islam, yang tentunya setelah kemandirian lembaga ini. Dengan cepat Pak Imam meletakkan dasar-dasar pengembangan STAIN Malang dengan menyusun naskah Rencana Pengembangan STAIN Malang Sepuluh Tahun Kedepan. Melalui naskah tersebut tergambar dengan jelas visi dan misi Pak Imam dalam mengemban amanah selaku pimpinan STAIN Malang, melalui jargonnya "Membangun Ulama Intelek Profesional dan Intelek Profesional yang Ulama".[3]

Perjuangan ini jelas tidak mudah karena tantangan yang ada di hadapannya tampak besar sekali. Namun ia bertekad dan yakin bahwa no impossible thing in the world, melalui terobosan-terobosan barunya yang cemerlang dia memulai mencari celah-celah untuk mewujudkan cita-citanya, baik dengan menggalang persatuan tekad antar warga kampus STAIN (intern) maupun dengan berinteraksi dengan masyarakat luar (ekstern) yang concern terhadap pendidikan.

Karena kepribadiannya yang tawadlu' dan niat luhurnya ia mendapat sambutan baik dari seluruh warga kampus STAIN. Ia mampu mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dengan bersatu padu mengembangkan STAIN menjadi kampus besar yang dipercaya oleh masyarakat Indonesia pada khususnya dan masyarakat Internasional umumnya.

Sambutan yang baik ini tidak ia sia-siakan, ia kemudian memulai program-programnya antara lain :

1.      Pembangunan fisik berupa masjid dan asrama mahasiswa. Hal ini didasarkan pada realita bahwa kalangan ulama yang ada mayoritas lahir dari pesantren. Maka jika STAIN konsisten dalam cita-citanya, yaitu untuk melahirkan ulama professional maka kampus harus dilengkapi dengan asrama atau pondok dan masjid. Selain itu juga ada upaya untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa di bidang Bahasa Arab dan Inggris, karena menurutnya dua bahasa inilah yang bisa mengantarkan mahasiswanya menjadi ulama intelek yang professional dan intelek professional yang ulama sesuai dengan konsep اولواالاباب yang menjadi brand kebesaran STAIN Malang.

2.      Pengembangan Dosen, menurutnya ukuran-ukuran ketenaran perguruan tinggi bisa dilihat dari tenaga akademik (dosen) yang ada di PT tersebut. Sehingga ia merasa sangat perlu sekali untuk membuat kebijakan dosen yang ada harus menempuh pendidikan lanjut S2 dan S3.

3.      Peningkatan etos/semangat akademik dan suasana keagamaan di kampus. Untuk mengembangkan semangat akademik diadakan beberapa diskusi, membimbing mahasiswa melakukan kajian-kajian ilmiah dan semacamnya. Dan untuk mengembangkan suasana keagamaan direalisasikan dengan mentradisikan membaca Al Qur'an di kampus.

Ambisi Pak Imam yang lain tentang gambaran masa depan pendidikan adalah ingin menjadikan perguruan tinggi ini sebagai rumah ilmu. Maksudnya dengan langkah-langkah seperti yang telah disebutkan kampus ini akan menjadi tempatnya orang berilmu (ilmuan) yang mempunyai gelar doktor dan professor yang karya-karyanya menjadi bahan rujukan dan perbincangan masyarakat ilmiah. Dengan begitu maka kampus ini sudah pasti akan didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa yang memang haus akan keilmuan.

Posisi perguruan tinggi ini yang masih berlebel STAIN masih kurang bisa bergerak bebas dalam menentukan arah kebijakan pendidikannya. Hal ini membuat Pak Imam segera mencarikan solusi yakni menjadikannya sebagai sebuat universitas. Akhirnya pada tahun 1993 kampus ini berubah menjadi UIIS (Universitas Islam Indonesia Sudan) dan akhirnya sekarang menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) yang insya Allah nama ini sudah tidak akan berubah lagi.

Langkah-langkah yang lain yang direncanakan Pak Imam ke depan adalah ingin menjadi landasan pendidikan di UIN ini kepada Al Qur'an dan Al Hadits serta hasil pemikiran empirik. Maksudnya adalah pendidikan Islam akan dijadikan satu kesatuan dengan pendidikan umum lainnya. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lulusan UIN mampu menjadi ulama yang intelek professional atau intelak professional yang ulama, sebagaimana brand yang tertera di almamaternya اولواالاباب"" sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an :

الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جبوبهم ويتفكزون فى خلق الله.

Mungkin ayat inilah yang menjadi insprirasi di hati Pak Imam sehingga beliau dengan keikhlasan hatinya dan dengan segenap tenaga serta pikirannya dicurahkan untuk memajukan UIN sehingga betul-betul menjadi kampus yang up to date dan berwawasan luas tanpa adanya dikhotomi terhadap ilmu agama dan ilmu umum.

Konsep seperti ini sejalan dengan pendapat Bapak Muhaimin dengan istilahnya paradigma organisme dalam bukunya Paradigma Pendidikan Islam. Beliau menyebutkan "kerangka pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrines dan fundamental values yang tertuang dan terkandung dalam Al Qur'an dan As Sunnah shahihah sebagai sumber pokok, kemudian mau menerima kontribusi pemikiran dari para ahli serta mempertimbangkan konteks historisitasnya"[4]

Dalam prakteknya nilai-nilai Ilahi didudukkan sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek-aspek lainnya dijadikan sebagai nilai-nilai insani yang mempunyai relasi horizontal-lateral atau lateral-sekuansial. Melalui upaya semacam ini diharapkan system pendidikan Islam dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan sehingga mampu menciptakan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kematangan professional, dan sekaligus hidup dengan nilai-nilai agama.

III. Penutup

Perjuangan memang harus didahului oleh niat yang tulus ikhlas لاعلاء كلمات الله agar hasil yang dicapai betul-betul dapat diterima oleh jiwanya sendiri lebih-lebih masyarakat sekitarnya. Apapun hasil dari usaha yang telah kita lakukan selanjutnya kita pasrahkan sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Karena Beliaulah yang menjadi Pemutus akhir dari segala urusan di dunia ini.

Kiranya uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan yang telah ditampilkan oleh Bapak Imam sejalan dengan apa  yang ada di dalam Al Qur'an yakni ingin menciptakan manusia yang اولواالاباب""  dan juga sesuai dengan realitas kebutuhan masyarakat Indonesia khususnya dan masyarkat dunia pada umumnya. Integritas keilmuan yang menjadi konsepnya bertujuan untuk menghilangkah dikhotomi ilmu agama dan ilmu umum telah beliau aplikasikan dalam kampus yang ia pimpin (UIN Malang).

Demikianlah ulasan singkat tentang "Sosok Pemimpin Kreatif" (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo) yang penulis anggap sebagai sosok pimpinan pendidikan yang patut dijadikan tauladan dalam pengembangan pendidikan yang lebih maju, dinamis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dunia. Selanjutnya penulis memohon sudilah kiranya pembaca untuk memberikan kritik konstruktif dalam penyempurnaan penulisan makalah ini ke depan.

Daftar Rujukan

Suprayogo, Imam. Reformulasi Visi Pendidikan Islam. 1999, STAIN Press, Malang.

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. 2001. Remaja Rosdakarya. Bandung

[1] Suprayogo, Imam. Reformulasi Visi Pendidikan Islam. 1999, STAIN Press, Malang. Hal. viii

[2] Ibid. hal. viii

[3]  Ibid. hal. ix

[4]  Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. 2001. Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal. 46

Interpretasi tentang Ulama Menurut al Qur'an


Interpretasi tentang Ulama Menurut al Qur'an

(Kajian surah Fatir ayat 28 dan as Syu’ara ayat 197)

Pendahuluan

Belakangan ini sering kita mendengar ada orang yang selalu berdalih tentang suatu perkara yang didasarkan pada hasil keputusan ulama, atas restu ulama, permintaan alim ulama dan lain semacamnya. Begitu mudah mereka menyebutkan atau memberikan lebel ulama kepada seseorang walaupun dalam pernyataan-pernyataan mereka itu tidak menutup kemungkinan adanya motif-motif laten baik politik maupun sosial budaya yang melatar belakangkinya.

Hal ini sering terjadi di Indonesia khususnya, ada kerancuan di sini dalam mengklasifikasikan seseorang bisa diberi label ulama atau belum. Sedangkan di negara-negara Timur Tengah kata-kata ulama malah jarang disebut-sebut. Mereka lebih suka memberikan label fuqaha kepada ahli fiqih, muhaddisin kepada ahli hadits mukallimin kepada ahli teologi dan sebagainya. Dan umumnya bagi para ahli ilmu kealaman atau ilmu pengetahuan dan teknologi tidak pernah diberi label ulama walaupun mereka mempunyai keilmuan yang begitu mendalam seakan-akan keilmuan mereka kurang mendapat perhatian dari kalangan umat Islam.

Juga sering terjadi terdengar penggunaan istilah “ulama yang intelek dan intelek yang ulama”, hal tersebut tambah membuat penulis penasaran untuk mengetahui lebih lanjut definisi ulama, dan sekaligus mengoreksi apa benar pemakaian istilah tersebut atau tidak.

Dari sini, penulis ingin mengetahui lebih lanjut tentang interpretasi ulama menurut al Qur’an, siapa dan bagaimana dia seharusnya. Penulis hanya menekankan pembahasan pada dua surah yaitu surah Fatir ayat 28 dan as Syu’ara ayat 197, karena kata ulama secara literleks hanya disebutkan dalam kedua ayat tersebut.

Interpretasi Ulama

Sebelum kita mengkaji lebih jauh tentang ulama, perlu diketahui bahwa kata tersebut berasal dari kata Arab ( علماء ) yang merupakan bentuk jamak dari kata mufrad ( عليم ) bentuk mubalaghah dari ( عالم  ) sehingga mempunyai arti orang yang banyak ilmunya. Kata ulama ini selanjutnya menjadi istilah resmi dalam Islam karena disebutkan secara jelas dalam al Qur'an maupun hadits Nabi. Di dalam al Qur'an, istilah tersebut disebut dua kali, yaitu dalam surat Fathir: 28

Artinya   : Dan  demikian  (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.(28)[1]

Adapun pengertian yang dapat dipahami dalam ayat di atas adalah bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu ke alaman atau ilmu kauniyah. Hal tersebut dapat ditangkap dari penjelasan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang beberapa fenomena kealaman.

Dan dalam surat As-Syuara:197

Artinya   : Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (197)[2]

Di sini, pengertian ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang agama. Dari kedua ayat tersebut di atas kemudian dapat disimpulkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kealaman dan atau ilmu agama, dan pengetahuan yang dimilikinya itu dipergunakan untuk mengantarkan para rasa khasyah (takut atau tunduk) kepada Allah SWT.

Sedang hadits Nabi menyebutkan, antara lain :

... وان العلماء ورثة الانبياء .... رواه ابو داود عن ابى درداع

Meskipun Ibnu Hajar al Asqalani, seorang ahli hadits, meragukan kesahihan hadits ini, tetapi jiwa hadits ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada surat Fatir ayat 32 yang berbunyi :

Artinya   : “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.”[3]

Ketika para nabi sudah tiada, maka tugas para ulama, yaitu tabligh atau menyampaikan (surah al Maidah ayat 67), tabyin atau menjelaskan (surat an Nahl ayat 67), tahkim atau memutuskan perkara ketika ada persoalan di antara manusia (surat al Baqarah 2:213), dan sebagai uswah atau contoh teladan (surah al Ahzab ayat 21)[4]

Lebih lanjut, untuk menentukan konotasi istilah ulama, disamping didasarkan pada arti bahasanya, haruslah disesuaikan dengan jiwa dan makna yang terkandung dalam ayat-ayat al Qur'an dan hadits-hadits Nabi yang bersangkutan. Dari dua ayat dan hadits di atas, dapat ditarik pengertian bahwa ulama ialah orang yang memiliki kedalaman ilmu yang dengan ilmunya menjadi bertaqwa kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, hal ini tergambar dalam batasan-batasan yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat Fathir : 28 sebagai berikut :

العالم من خشي الرحمن بالغيب ورغب فيما رغب الله فيه وزهد فيما سخط الله فيه[5]

Artinya   : Orang alim ialah orang yang takut kepada Allah sebagai Zat yang al Ghaib, senang terhadap apa yang disenangi Allah dan menyingkirkan segala yang dibenci Allah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seorang ulama tidak dapat diukur dari kadar kealimannya terhadap hadits, fiqh ataupun masalah keagamaan lainnya, akan tetapi ia haruslah merupakan orang yang benar-benar dapat memancarkan nur-nur ilahiyah dalam hati, ucapan dan tingkah lakunya.

Dan juga dikemukakan oleh As Suyuthi sebagai berikut :

العلماء بالله الذى يخافون الله, العالم من خشي الله, كفى بالمرء علما ان يخشى الله وكفى بالمرء جهلا ان يتعجب بعمله, كفى بخشية الله علما وكفى باغترار المرء جهلا.[6]

Artinya :

-          Ulama Allah ialah mereka yang takut kepada Allah

-          Orang alim ialah orang yang takut kepada Allah

-          Cukup membuktikan bahwa seseorang disebut berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukup membuktikan kebodohan seseorang jika ia menyombongkan perbuatannya sendiri.

-          Adanya sikap takut kepada Allah itu telah cukup membuktikan ilmu seseorang, dan dengan tertipu oleh syetan itu juga telah cukup membuktikan kebodohan seseorang.

Dengan demikian, kekhususan ulama sebagai ahli ilmu adalah kadar takwa yang diwujudkan sebagai implementasi dari ilmunya yang mendalam, bukan kekhususan bidang atau jenis ilmu yang dimilikinya. Bidang ilmu apapun, jika dimiliki secara mendalam mencapai takwa kepada Allah. Dan sesungguhnya kemaslahatan hidup manusia tidak akan bisa sempurna kecuali dengan keahlian seperti itu.[7] Karena itu, dalam rangkaian ayat yang dikutip tulisan ini, tampak sebelum Allah berbicara tentang ulama, Allah justru mengapresiasikan berbagai fenomena alam, sebagai bukti kekuasaan Allah, sehingga dapat menghantarkan pada titik keimanan yang berlanjut dengan ketakwaan dan kesempurnaan hidup.

Bahkan paling paling tidak ada 8 ayat (19-26) yang sebelumnya juga telah mengusik pemikiran untuk melakukan pemahaman, peresapan dan analisis lebih cermat, sebagai awal dari proses pencapaian ketakwaan yang didasarkan atas kedalaman ilmu tersebut. Delapan ayat tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut : Pada mulanya Allah mempertanyakan apakah sama antara orang buta dan orang yang dapat melihat, antara gelap dan terang, antara yang teduh dan yang panas, antara yang yang hidup dan yang mati. Kemudian Allah menyataka memberikan pendengaran kepada siapapun yang dikehendaki. Selanjutnya, Allah menjelaskan fungsi Rasul bagi umat sebagai pembawa bayinat (berbagai penjelasan) yang dating dari sisi-Nya dan harus diikuti, serta mengancam siapapun yang mendustakannya.

Hanya saja, seseorang yang sama sekali tidak memiliki ilmu agama, meskipun sangat luas dalam ilmu-ilmu lain, tidaklah mungkin takut kepada Allah sebab ia tidak mengenali Allah. Padahal untuk menimbulkan rasa takut harus terlebih dahulu mengenal siapa yang mesti ditakuti itu. Thanthawi Jauhari menyatakan bahwa :

الخشية شرطها المعرفة[8]

Artinya : “Syarat mutlak terjadinya rasa takut adalah mengenali dahulu,”

Dan Al Maraghi menyatakan :

انما يخاف الله فيتقى عقابه بطاعته العالمون بعظيم قدرته على ما يشاء[9]

Artinya : “Sesungguhnya orang yang sanggup takut kepada Allah lalu menjaga diri dari siksaan dengan cara berbuat taat kepada-Nya hanya orang-orang yang mengenali Allah dengan segala keagungan dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.”

Adapun istilah (علماء) sendiri mengalami perkembangan dalam pemakaiannya. Hal ini terjadi lantaran perkembangan pemakaian kata ( علم ). Pada mulanya kata ilmu itu digunakan untuk pengertian ilmu pengetahuan mengenai Allah SWT., tanda-tanda kebesaran dan perbuatan-perbuatan-Nya kepada sekalian makhluk. Dalam perkembangan berikutnya, menurut Al Ghazali, kata ilmu banyak dipakai dengan pengertian bahwa orang alim ialah orang yang mahir berbantah masalah khilafiah, sekalipun tidak mengetahui tafsir, hadits, bahkan hanya memiliki ilmu perbantahan khilafiyah itu saja.[10]

Pada masa al Khulafaur Rasyidin (empat khalifah pertama) tidak ada pemisaha antara orang yang memiliki ilmu agama, ilmu pengetahuan kealaman, dan pemimpin politik praktis. Para sahabat Nabi SAW umumnya memiliki pengetahuan keagamaan, pengetahuan kealaman, dan sekaligus mereka juga pelaku-pelaku politik praktis. Para sahabat terkemuka pada masa itu biasanya duduk dalam suatu dewan pertimbangan yang disebut ahl al Halli wal al ‘Aqd. Oleh ulama, para sahabat ini kemudian disebut ulama salaf.

Selanjutnya pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan sesudahnya, istilah ulama lebih ditekankan kepada orang yang memiliki pengetahuan keagamaan saja. Bahkan karena ada pembidangan ilmu agama, istilah ulama lebih dipersempit lagi. Misalnya, ahli fiqih disebut fuqaha, ahli hadits disebut muhaddisin, ahli kalam disebut mutakallim, ahli tasawwuf disebut mutasawif, dan ahli tafsir disebut mufassir. Sementara orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu kealaman tidak lagi disebut ulama, tetapi disebut ahli dalam bidang masing-masing. Tokoh-tokoh seperti al Khawarizmi, al Biruni, dan Ibnu Hayyan tidak disebut sebagai ulama, tetapi disebut sebagai ahli kauniyah. Tokoh-tokoh itu baru disebut ulama bila merangkap memiliki ilmu pengetahuan keagamaan.

Di Indonesia, istilah ulama atau alim ulama yang semula dimaksudkan sebagai bentuk jamak, berubah pengertiannya menjadi bentuk tunggal. Pengertian ulama menjadi lebih sempit, karena diartikan sebagai orang yang memiliki pengetahuan tentang  keagamaan dalam bidang fiqih. Ulama identik dengan fuqaha, bahkan dalam pengertian awam sehari-hari ulama adalah fuqaha dalam bidang ibadah saja.

Namun betapapun semakin sempitnya pengertian ulama dari dahulu sampai sekarang, namun cirri khasnya tetap tidak bisa dilepaskan, yakni ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu diajarkan dalam rangka khasyah (adanya rasa takut atau tunduk) kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seorang ulama harus orang Islam. Seseorang yang baru memiliki ilmu keagamaan (keislaman) seperti para ahli orientalis tidak dikatakan ulama.

Selanjutnya al Ghazali mengklasifikasikan ulama menjadi dua bagian, yaitu :

Ulama suu’ atau ulama dunia

Yaitu mereka yang menggunakan ilmunya sekedar untuk memperoleh kenikmatan di dunia, meraih kehormatan dan pangkat duniawi[11]. Klasifikasi ini dikaitkan dengan surat Ali Imran:187

Artinya   : “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.”[12]

Ulama Akhirat

Yaitu ulama yang tidak masuk kualifikasi di atas[13]. Dalam hal ini beliau mengaitkan dengan surat Ali Imran:199

Artinya   : “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya.”[14]

Lebih lanjut, Al Ghazali melukiskan sifat karakteristik mereka, antara lain sebagai berikut :

1.      Orientasi keilmuannya selalu diperhitungkan dengan pertanggungjawaban di akhirat

2.      Sikap perbuatannya konsisten dengan ucapannya

3.      Penuh semangat untuk senantiasa mengembangkan ilmunya

4.      Sederhana dalam hidup sehari-hari

5.      Tidak berambisi untuk memperoleh posisi formal

6.      Cermat dan waspada dalam memberikan fatwa

7.      Orientasi aktifitasnya untuk pembangunan kedekatan diri kepada Allah

8.      Selalu meningkatkan komitmensi keagamaan.[15]

Analisis Kritis

Pemberian label ulama tidak seharusnya hanya diberikan kepada orang yang mahir dalam bidang ilmu-ilmu agama saja dan juga tidak kepada orang-orang yang mahir dalam bidang ilmu-ilmu kealaman saja. Akan tetapi ulama seharusnya dapat memiliki keluasan ilmu baik dalam bidang agama maupun dalam ilmu pengetahuan umum. Karena keluasan ilmu menurut Ibnu Qayyim lebih baik dari pada kedalaman ilmu[16]. Orang yang hanya mahir dalam ilmu agama dia akan bodoh dalam bidang ilmu lainnya begitu juga sebaliknya orang yang hanya mahir dalam bidang ilmu pengetahuan umum saja dia akan bodoh dalam pengetahuan bidang agama. Jadi sebaiknya seorang ulama mampu mendalami kedua disiplin ilmu pengetahuan tersebut tanpa adanya dikotomi. Hal tersebut juga dapat dipahami dari kedua ayat yang telah dijelaskan di atas.

Dalam mengambil kebijakan atau keputusan hukum seorang ulama dituntut untuk mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan. Aspek-aspek ini harus didalaminya baik aspek duniawi maupun ukhrawi sehingga keputusannya betul-betul dapat menimbulkan mashlahah mursalah bagi umat yang menjalankan keputusan mereka.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa :

1.      Surah Fatir ayat 28 mengisyarakatkan bahwa ulama adalah orang yang mempunyai kompetensi dalam bidang kealaman.

2.      Sedangkan surah as Syuara ayat 197 mengindikasikan bahwa ulama adalah orang yang ahli dalam bidang keagamaan.

3.      Kata ulama mengalami pergeseran makna sehingga jarang sekali orang disebut ulama kalau tidak dapat menguasai kedua bidang keahlian yaitu dalam bidang agama dan pengetahuan kealaman.

4.      Di dalam dua ayat di atas, mengisyaratkan bahwa ulama yang sebenarnya adanya yang mempunyai pengetahuan kealaman dan keagamaan.

5.      Hekakat ulama adalah orang yang mempunyai ilmu keagamaan dan kealaman yang dengan ilmunya ia menjadi takut kepada Allah.

Daftar Rujukan

Holy Qur’an, Shahr, Mesir, 1997. (CD-ROM Holy Qur’an)

Azyumardi Azra, Eksiklopedi Islam. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta

As Suyuthi, Ad Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, Darul Kutb, Beirut, 1923, Juz 5.

Hasan bin Ali al Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim. Pustaka al Kautsar, Jakarta, 2001

Thanthawi Jauhari. Al Qur'an wa al Ulumu al Ashriyah

Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, Juz 22

Al Ghazali, Ihya Ulum al Din, Juz I

TUGAS MAKALAH

STUDI AL QUR’AN

INTERPRETASI TENTANG ULAMA MENURUT AL QUR'AN

(Kajian surah Fatir ayat 28 dan as Syu’ara ayat 197)

Dosen Pembimbing :

Dr. H. Saad. Ibrahim

  



Oleh :

Suwari / 04920021

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG

2005

[1] Holy Qur’an, Shahr, Mesir, 1997. (CD-ROM Holy Qur’an)

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Azyumardi Azra, Eksiklopedi Islam. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 120

[5] Ibid.

[6] As Suyuthi, Ad Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, Darul Kutb, Beirut, 1923, Juz 5, hal. 250

[7] Hasan bin Ali al Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim. Pustaka al Kautsar, Jakarta, 2001, hlm. 285

[8] Thanthawi Jauhari. Al Qur'an wa al Ulumu al Ashriyah, hlm. 83

[9] Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, Juz 22. hlm. 87

[10] Al Ghazali, Ihya Ulum al Din, Juz I, hlm. 33

[11] Ibid. hlm.

[12] Holy Qur’an. Ibid.

[13] Al Ghazali, Ibid.

[14] Holy Qur’an. Ibid.

[15] Al Ghazali, Ibid.

[16] Hasan bin Ali al Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibn Qayyim, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2001, hlm. 291

Pemikiran Pendidikan Islam Menurut Ikhwan Al-Safa



PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT
IKHWAN AL SAFA

A. Ikhwan Al Safa
Ikhwan Al Safa adalah sebuah perkumpulan para mujtahidin yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan namanya, Ikhwan Al Safa berarti persaudaraan yang suci dan bersih. Maka asas utama perkumpulan ini adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus dan ikhlas, kesekawanan yang suci, dalam menuju ridlo Ilahi. Perkumpulan ini dibentuk di kota Bashrah Irak sekitar tahun 340/941 olah Zayd Ibn Rifa'ah dan berkembang pada abad ke dua Hijriah.[1]
Informasi lain menyebutkan bahwa perkumpulan ini lahir pada abad ke 10 M. di kota Bashrah, pada masa pemerintahan Al Mansur, khalifah kedua pemerintahan Bani Abbas. Dari Bashrah, Ikhwan Al Safa terus berkembang ke berbagai daerah seperti Iran dan Quwait. Organisasi ini mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam yang didasarkan atas persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap saling mencintai sesama saudara muslim dan kepedulian yang tinggi terhadap orang muslim.[2] Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan muballigh bagi masyarakatnya.
Kemunculan Ikhwan Al Safa dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap pelaksanaan ajaran Islam yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran luar Islam, serta untuk membangkitkan kembali rasa cinta pada ilmu pengetahuan. Organisasi ini sangat merahasiakan anggotanya. Mereka bekerja dan bergerak secara rahasia, disebabkan kekhawatiran akan tindak penguasa waktu itu yang cenderung menindas gerakan-gerakan yang timbul.[3]
Dalam perkembangannya, perkumpulan ini menggunakan cara yang halus dan bercorak kebatinan. Mereka sangat mengutamakan pribadi, jiwa dan akidah manusia.
Dalam aktifitas Ikhwan Al Safa, banyak juga memfokus untuk mempelajari bidang kefilsafatan. Karena di antara pendiri perkumpulan ini terdiri dari para filosof sehingga pemikirannya banyak dipengaruhi oleh filsafat yang berkembang saat itu seperti filsafat Yunani dan Persia. Dan kemudian dipadukan dengan ajaran Islam. Sehingga menjadi satu ikhtisar dan madzhab filsafat tersendiri. Dari sinilah akhirnya Ikhwan al Safa menyusun sebuah buku yang terdiri dari sejumlah risalah yang berjudul "Rasail Ikhwan al Safa wa al Kullah al Wafa yang membahas tentang pengetahuan dan mencakup semua objek studi manusia, seperti salah satunya tentang masalah pendidikan.
Di samping itu juga, kelompok Ikhwan Al Safa mengklaim dirinya sebagai kelompok non partisan, objektif, ahli pencita kebenaran, elit intelektual dan solid kooperatif. Mereka mengajak masyarakat untuk menjadi kelompok orang-orang mu'min yang militant untuk beramar ma'ruf nahi mungkar. Dan sebagian sejarawan komtemporer menganggap bahwa perkumpulan ini merupakan kelompok terorganisir terdiri dari para filosof moralis yang menganggap bahwa pangkal perseteruan sosial politik dan keagamaan terdapat para keragaman agama dan aliran dan eknik kesukuan, sehingga mereka berusaha untuk mengilangkan dan mewadahi dalam satu madzhab yang inklusif dan berpijak pada ajaran yang disarikan dari semua agama dan aliran ada.[4]
Dalam konteks demikian, dapat kami kemukakan bahwa kelompok Ikhwan al Safa pada realitanya adalah organisasi yang juga mempunyai tujuan-tujuan politis untuk melakukan transformasi sosial namun tidak melalui cara radikal, revolusioner, melainkan melalui cara transformasi pola pikir masyarakat luas. Namun dalam hal hal ini kami tidak membahas banyak, yang kami fokuskan adalah pembahasan pemikiran Ikhwan al Safa dalam pendidikan.
1.      Konsep Pendidikan Ikhwan al Safa
Dalam sejarah Islam, kelompok ini tampil eksklusif dalam gerakan reformatif pendidikannya, karena itu mereka adalah ta'limiyyun (pengajaran) dalam melangsungkan kegiatan keilmuannya organisasi ini memandang pendidikan dengan pandangan yang bersifat rasional dan empiric, atau perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual dan factual. Mereka memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang diketahui dari ala mini. Dengan kata lain yang dihasilan dari pemikiran manusia itu terjadi karena mendapat bahan informasi yang dikirim oleh panca indra.[5]
Teori Ikhwan al Safa tentang pendidikan didasarkan atas gagasan filsafat Yunani. Menurut Ikhwan al Safa bahwa setiap anak lahir dengan membawa sejumlah bakat (potensi) yang perlu diaktualisasikan. Oleh karena itu seorang pendidik tidak boleh menjejali otak peserta didik dengan ide-ide dan keinginannya sendiri, pendidik hendaknya mengangkat potensi laten yang terdapt dalam peserta didik.
Menurut Ikhwan al Safa, hakekat manusia adalah terletak pada jiwanya, sementara jasad merupakan penjara bagi jiwa, oleh karena itu kelompok ini membuat perumpamaan bagi orang yang beluk dididik dengan ilmu aqidah, ibarat kertas putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak akan dihilangkan.
Ketika lahiri jiwa tidak memiliki pengetahuan sedikitpun, proses perolehan pengetahuan manusia digambarkan Ikhwan al Safa secara dramatis dilakukan melalui perlimpahan. Proses perlimpahan itu bermula dari jiwa universal kepada jiwa manusia setelah terlebih dahulu melalui proses imanasi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dicari melalui dua cara, pertama dengan cara mempergunakan panca indra terhadap objek alam semesta yang bersifat empirik, dan kedua dengan cara menyampaikan informasi yang disampaikan oleh orang lain.[6]
Pada bagian lain Ikhwan berpendapat bahwa pada dasarnya semua ilmu itu harus diusahakan (muktasabah) bukan dari pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian dapat didengan dengan menggunakan panca indra. Sesuatu yang terlukis dalam pemikiran itu bukanlah sesuatu yang hekekatnya telah ada dalam pemikiran, melainkan lukisan tersebut merupakan pantulan yang terjadi karena adanya kiriman dari panca indra. Jadi  bukan karena ide dari alam pikiran. Dengan panca indra itulah manusia dapat mengetahui sesuatu pandangan seperti dihasilkan melalui penafsiran terhadap ayat An Nahl 16:78
والله اخرجكم من بطون امهاتكم لاتعلمون شيأ وجعل لكم السمع والابصار والافئدة لعلكم تشكرون.
Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya panca indra dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sesuai sampai pada pengetahuan tentang esensi Tuhan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan inisiasi yaitu bimbingan/otoritas ajaran agama.
Oleh karena itu Ikhwan al Safa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Karena itu untuk dapat mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide. Aliran idealisme inilah yang ditentang oleh Ikhwan al Safa.
Aliran Ikhwan al Safa lebih dekat dengan aliran John Locke yang bersifat empirisme. Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena panca indra berinteraksi dengan alam nyata. Begitu juga dengan cara mendapatkan ilmu itu harus diusahakan dengan cara membiasakan berpegang pada pembiasaan dan perenungan. Hal inilah yang dapat memperkuat daya ingatan dan kedalaman ilmu seseorang.

2.      Tujuan Pendidikan menurut Ikhwan al Safa
Sesuai dengan karakteristik dasar pemikiran Ikhwan al Safa terefleksikan dalam pandangan pendidikannya, mereka mengawali pengkajiannya dengan merumuskan tujuan-tujuan individual dan sosial yang ingin direalisasikan melalui aktivitas pendidikan. Secara nyata mereka memberi porsi lebih terhadap tujuan sosial dibanding tujuan individual. Mereka mengkritisi merebaknya pemikiran-pemikiran merusak yang banyak dianut oleh mayoritas masyarakat.
Berangkat dari pemikiran tersebut Ikhwan al Safa mengkonsepsikan ilmu bukan sebagai sesuatu yang mengandung tujuan dalam dirinya sendiri, sebagaimana konsep dari beberapa kalangan. Menurut Ikhwan ilmu harus difungsikan untuk pelayanan tujuan luhur kependidikan yakni pengenalan diri. Akan tetapi keharusan mengenali dirinya sendiri bukanlah suatu tujuan akhir, melainkan sebagai sarana menuju kesamaan dan keluhuran manusia secara umum. Sebab tujuan akhir pendidikan adalah peningkatan harkat manusia kepada tingkatan malaikat yang suci agar dapat meraih ridlo Allah.
Menurut Ikhwan al Safa, pendidikan merupakan suatu aktivitas yang berhubungan dengan kebijaksanaan. Hal itu terjadi karena proses pendidikan akan memberikan pendidikan yang terbaik untuk dapat melatih keterampilan juga membekali dengan akhlak yang mulia, dan akhirnya dapat mendekatkan diri pada Tuhan.

3.      Pendidik menurut Ikhwan al Safa
Ikhwan al Safa menempatkan pendidik (guru) pada posisi strategis dan inti dalam kegiatan pendidikan, mereka mempersyaratkan kecerdasan, kedewasaan, keluhuran moral, ketulusan hati, kejernihan pikir, etos keilmuan dan tidak fanatic buta pada diri pendidik. Mereka menganggap bahwa mendidik sama dengan menjalan fungsi Bapak kedua kerena orang tua adalah pembentuk rupa fisik biologis, sedang guru adalah pembentuk rupa mental rohani.
Oleh karena itu nilai seorang guru menurutnya tergantung kepada caranya menyampaikan ilmu pengetahuan, untuk itu mereka mensyaratkan agar guru memiliki syarat-syarat yang sesuai dengan sikap dan pandangan politik Ikhwan al Safa serta sesuai dengan tujuan penyiaran dakwahnya sebagaimana syarat yang telah diuraikan di atas.
Syarat-syarat yang demikian hanya muncul dari orang-orang yang berada di organisasinya. Oleh karena itu mereka memiliki aturan tentang seorang guru yang mereka istilahkan dengan nama Ashlab al Numus. Mereka itu adalah muallim, ustadz dan muaddib. Guru Ashalab al Numus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual dan akhirnya Allah lah sebagai guru dari segala sesuatu.

4.      Keistemewaan Pemikiran Ikhwan al Safa dalam Etos Keilmuan
Bahwa Ikhwan al Safa di dalam etos keilmuannya tidak membatasi diri hanya pada satu sumber, melainkan dari berbagai pandangan yang luas dan menyeluruh tentang sumber-sumber pengetahuan. Selain itu keistimewaan yang paling menonjol, bahwa mereka menolak fanatisme dan berpegang pada kebebasan berfikir kritis untuk mencari kebenaran, sehingga mereka mampu untuk mempengaruhi generasinya untuk memahami keragaman dan perbedaan pemikiran, serta pluraritas aliran pemikiran dalam pengembangan dinameka keilmuan dan akselerasi derap langkah kemajuan intelektual sosialnya melalui sistem pendidikan yang efektif.
Kelompok ini mampu memerankan fungsi strategis dalam sejarah gerakan pemikiran Islam, dan memberikan pengaruh yang positif serta kontribusi yang besar dalam memacu perkembangan pemikiran Islam, yaitu berupa :
1)      Totalitas kelompok Ikhwan dalam mengabdi untuk kehidupan intelektual di abad ke 4 H. sehingga merekalah yang paling lantang dan fasih berbicara tentang masalah ini.
2)      Perintisan program penyusunan karya eksiklopedis pemikiran keislaman, yaitu dengan risalah-risalah mereka yang populer.
3)      Pencerdasan dan pencerahan masyarakat luas melalui program pengajaran aneka ragam ilmu dan filsafat.

Analisis
Dari uraian di atas, nampak pandangan Ikhwan al Safa mengenai pendidikan sangat dipengaruhi oleh pandangan kelompoknya dan terkesan eksklusif dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan spiritual belaka, kurang banyak membicarakan mengenai proyeksi kehidupan di dunia. Namun demikian sebagai sebuah organisasi ini nampak militant dan solid dalam menggalang misi dakwah yang dianutnya. Sikap solid ini sebagai sebuah organisasi perlu dipejalari secara seksama untuk dicarikan cara-cara yang perlu ditempuh dalam mencapai tujuan.
Demikian juga tentang pendidikan dan tujuan-tujuannya yang bersifat social dan intelektual, mungkin hal ini merupakan teori terpadu sistematik dan berdasarkan analisa rasional. Mereka membingkai teori-teori tersebut dengan kerangka moral utama berupa keharusan menguasai ilmu pengetahuan untuk sarana peningkatan kualitas/kemuliaan diri, sehinga akhirnya dapat menjadikan tanggung jawab individu terhadap diri sendiri, masyarakat dan Tuhannya.
Di dalam pemikiran Ikhwan al Safa, secara signifikan tercetus “Rekonsiliasi antara definisi rasional, psikologis, moral, etik dan sosiologis bagi keilmuan pendidikan. Namun demikian kelompok ini lebih mengedepankan rasionalisasi religius yaitu berpikiran idealistis, sehingga memasukkan semua disiplin keilmuan yang nyata dan terkait dengan kebutuhan langsung manusia baik kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmani, yang tidak menjadi pemikiran Ibn Khaldun.
Dari pemikiran-pemikiran Islam para tokoh baik al Ghazali, Ibn Khaldun maupun Ikhwan al Safa terdapat kelebihan dan kekurangan, yang satu sama lain saling melengkapi, maka kewajiban bagi kita adalah melihat pemikiran pendidikan mereka dengan perspektif masa mereka hidup dan mengeksplorasi intelektualnya hingga menghasilkan buah pemikiran sebaik mungkin dengan demikian kita akan mampu memetik serangkaian prinsip utama pendidikan dalam beberapa karya tulis mereka, lalu menatanya dalam konstruksi yang utuh sehingga membentuk teori pendidikan yang betul-betul komprehensif.


[1] Ansiklopedia
[2] Ahmad Fuad Al Ahwani, Al Tarbiyah fi Al Islam. Mesir, Dar Al Maarif Hl. 227
[3] Dr. H. Samsul Hizah, MA. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta. Ciputat Pers, 2002 Hal. 96
[4] Muhamad Jawad Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Jogjakarta. PT. Tiara Wacana 2002 hal. 146
[5] Dr. H. Abuddin Nata, MA. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta, Logos Wacana Ilmu. hal. 182
[6] Dr. Syamsur Nizar, MA. Op Cit. hal. 98-99
 

.

.
FullConversation.com 300x250
EnglishforAcademic.com banner3
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MAULANA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger